h1

Just In Time (JIT)

September 12, 2008

BAB I

Pendahuluan

Sistem pemanufakturan tradisional mengatur skedul produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan di masa yang akan dating. Padahal tidak seorangpun yang dapat memprediksi masa yang akan datang dengan pasti walaupun dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecendrungan yang terjadi di pasar.

Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisional memiliki resiki kerugian yang lebih besar karena over produksi dari pada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu muncullah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila disyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosan dapat dihindarkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih koperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

Just In Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki implikasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar Just In Time sangat sederhana, yaitu berproduksi hanya apabila ada permintaan atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta, pada saat diminta, dan hanya sebesar kuantitas yang diminta.

Prinsip dasar Just In Time adalah peningkatan kemampuan perusahaan secara terus menerus untuk merespon perubahan dengan minimisasi pemborosan. Terdapat empat aspek pokok dalam konsep Just In Time yaitu :

  • Menghilangkan semua aktifitas atau sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk dan jasa.
  • Komitmem terhadap kualitas prima.
  • Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.
  • Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas aktivitas yang memberikan nilai tambah.

Perusahaan-perusahaan meningkatkan perhatian terhadap keuntungan potensial dari :

1. Membuat pesanan pembelian yang lebih kecil dan lebih sering

2. Membangun kembali hubungan dengan pemasok

Kedua hal di atas berhubungan dengan peningkatan minat dalam sistem pembelian tepat waktu. Pembelian Just In Time adalah pembelian barang atau bahan sedemikian rupa sehingga pengiriman secara tepat mendahului permintaan atau penggunaan. Dalam keadaan ekstrim tidak adanya persediaan ( barang untuk dijual bagi seorang pengecer, bahan baku barang dalam proses atau barang jadi bagi seorang produsen ) yang di tahan.

Perusahaan yang menggunakan pembelian Just In Time biasanya menekankan biaya tersembunyi yang berhubungan dengan menahan tingkat persediaan yang tinggi. Biaya tersembunyi ini meliputi jumlah ruang penyimpanan yang lebih besar dan jumlah kerusakan yang cukup besar.

BAB II

ISI

I. 1 Pengertian Just In Time

Menurut Henri Simamora dalam buku Akuntansi Manajemen, Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi. Metode produksi Just In Time mensyaratkan tidak adanya persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya pada saat dibutuhkan saja.

Filosofi JIT difokuskan pada aktivitas yang dibutuhkan oleh agen internal lain dalam organisasi 4 aspek fundamental JIT ,Yaitu:

  1. Semua aktivitas yang tidak bernilai terhadap produk atau jasa akan dieliminasi.

Ø Ini menyangkut aktivitas atau SD (Sumber Daya) yang akan dikurangi atau dihilangkan.

  1. Adanya komitmen terhadap kualitas yang tinggi

Ø Melakukan hal yang baik pertama kali adalah yag terpenting dimana tidak ada waktu untuk pengerjaan ulang

  1. Perbaikan berkelanjutan dalam efisiensi aktivitas sangat diperlukan
  2. Penyederhanaan dan peningkatan nilai tambah aktivitas sangat ditekankan

Ø Ini membantu mengidentifikasi aktivitas yang tidak memberi nilai tambah

I. 2 Mengenal sistem produksi tepat waktu

Sistem Produksi Jepang

Sistem produksi Jepang dikenal dengan nama Sistem Produksi Tepat Waktu ( Just In Time ). Filosofi dasar dari sistem produksi Jepang (JIT) adalah memperkecil ke mubadziran. Bentuk kemubadziran antara lain adalah :

  • Kemubadziran Waktu Misalnya ada pekerja yang menganggur, mesin yang menganggur, waktu transport dalam pabrik tidak efisien, jadwal produksi yang tidak ditepati, keterlambatan material dan sebagainya.
  • Kemubadziran dalam material Misalnya terlalu banyak buangan akibat proses produksi, banyak terjadi kerusakan material atau material dalam proses, banyaknya material yang hilang, nilai material yang turun akibat terlalu lama disimpan.
  • Kemubadziran dalam manajemen Misalnya terlalu banyak karyawan kantor, banyak terjadinya mis-informasi antar departemen, banyak overlapping dapam penugasan, pelaksanaan tugas yang tidak efektif.

Jepang melakukan eliminate of waste karena Jepang tidak punya resources yang cukup. Untuk dapat melaksanakan Eliminate Of Waste Jepang melakukan strategi yaitu :

  • Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan
  • Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan
  • Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan

Tujuan utama dari sistem JIT adalah untuk dapat memproduksi produk dengan kualitas terbaik, ongkos termurah, dan pengiriman pada saat yang tepat. Tujuan utama ini bisa dicapai jika unsur berikut dapat dilaksanakan secara terpadu, yaitu melakukan pengendalian kuantitas dengan baik.

Untuk dapat menentukan kuantitas yang tepat maka diperlukan sistem informasi yang baik. Sistem informasi untuk memproses produk tersebut, di Jepang dikenal dengan istilah Kanban ( kartu berjalan ). Pelaksanaan pengendalian kuantitas akan berjalan dengan baik jika didukung oleh suplier dan consumer yang pasti dan tepat waktu. Jika hal ini dapat dilakukan maka kita akan dapat mengeliminir waste dalam material sehingga konsep Zerro Inventory dapat dilaksanakan.

Dalam melakukan pengendalian kualitas di Jepang dikenal dengan istilah TQC ( Total Quality Control ). Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi konsep Zerro Defect. Didalam sistem produksi di Jepang tidak ada departemen pengendaliankualitas, tetapi yang ada adalah Quality Assurance. Konsep Zerro Defect tersebut akan dapat berjalan dengan baik jika para [pekerja diberi kewenangan, agar tidak memberikan hasil produk yang tidak baik ke rekan kerja berikutnya sehingga tidak menyusahkan pekerja lainnya.

Menjunjung tinggi harkat kemanusiaan karyawan. Didalam sistem produksi dikenal 5 faktor produksi yang penting agar produksi dapat berjalan dengan baik yang dikenal dengan istilah lima M, yaitu Man, Machine, Material, Money, Method. JIT tidak ingin menganggap Man hanya sebagai salah satu faktor produksi saja, tetapi lebih dari itu yakni ingin mengangkat harkat kayawan sehingga ia merasa mamiliki sebagian dari perusahaan. Untuk dapat melakukan ini ada 3 cara yaitu :

  1. Otonomi ( kewenangan ) Karena karyawan sebagai pelaku dan penentu dalam proses produksi maka perlu kewenangan sehingga dapat mengambil keputusan sesuai dengan batasan tugas dan tanggungjawabnya.
  2. Flexsibility Karyawan perlu mengetahui dan bisa melakukan pekerjaan lain diluar pekerjaannya.
  3. Creativity Jika wewenang, tanggung jawab, job, dan flexsibility sudah dimiliki karyawan tetapi kreativitas belum tersalurkan maka akan muncul kejengkelan dari karyawan.

I.3 JIT Purchasing

Dengan pembelian dalam JIT, tambahan barang akan di jadwalkan diantarkan dengan segera pada saat akan dibutuhkan/digunakan. Organisasi/perusahaan ini memesan lebih banyak dibandingkan dengan yang diharuskan oleh permintaan atau penggunaan singkat dan sering kali persediaan disimpan dalam gudang untuk berminggu atau lebih lama.

Karakteristik Aktivitas Pengoperasian

Organisasi atau perusahaan yang mengadopsi JIT purchasing melaporkan peningkatan subtantial dalam pengantaran individu.masing masing mengandung lebih sedikit unit biaya dan waktu yang berhubungan dengan aktivitas pembeliaan dikurangi dengan :

1. Mengurangi jumlah pemasok dan konsekuensi sumber daya diperhatikan dari negosiasi pembelian

Ø Sebagai contoh Apple computer mengurangi vendornya dari 400 mnjadi 75 dan 19 cos mengurangi pemasok dari 640 menjadi 32

2. Penetapan harga dan tingkat kualitas yg dapat diterima dalam perjanjiaan jangka panjang dengan pemasok ,mengeliminasi negosiasi untuk masing masing transaksi pembeliaan

Ø Kriteria pembeli produk beberapa pengadopsi JIT mengunakan pengiriman terdepan

3. Memiliki penetapan program pembeli untuk memberitahu vendor mengenai kualitas dan syarat pengiriman

4. Menggunakan Shop –ready container

Ø Aktivitas berhubungan dengan pengepakan dan tidak pengepakan adalah contoh bagaimana kos tidak bernilai tambah seringkali diadakan

5. Biaya atau kos untuk program inspeksi kualitas yang baru masuk dikurangi?

Penetapan tujuan perusahaan yang ditujukan pada JIT purchasing ialah ambisius contoh yang diberikan konsultan mengenai bagaimana peningkatan tujuan spesifikasi yang sangat agresif :

Produktivitas dan perbaikan harga pemasok (90%) ; total persediaan dan pengurangan waktu (90%), kualitas tanpa inspeksi (100%), Kinerja terjadwal (100%).

Implikasi terhadap kos accounting

1. Meningkatkan kemampuaan meniru kos langsung

Dalam JIT adanya peningkatan dalm kemampuaamn meniru kos langsung terhadap pengecer individual / jalur produksi

2. Mengubah kelompok kos dimana digunakan untuk mengakumulasikan kos

Kos yang dialokasikan terhadap depatmen produksi dalm lingkungan pembeliaan traditional dikelompokkan atas 2 cara , yaitu:

a. Masing-masing kelompok biaya dialokasikan terhadap masing-masing departemen produksi.

b. Pembelian gudang dan kos yang berhubungan dikumpulkan dalam satu atau lebih kelompok kos agregat dan dialokasikan ke masing-masing departemen produksi

Dalam lingkungan pembelian JIT yang ideal, gudang harus dieliminasi dan kos penanganan material harus dikurangi.

3. JIT mengubah basis yang digunakan untuk alokasi kos tidak langsung ke departemen produksi.

Basis alokasi sebagai nilai guna material atau sejumlah aktivitas pengantaran mungkin dapat memperkirakan hubungan sebab dan akibat antara pembelian dan aktivitas penanganan material dan kos tidak langsung yang ada.

4. Mengurangi perhatian pada informasi varian harga beli individu.

Dalam lingkungan JIT, perhatian pada total kos dalam operasi tidak hanya pada harga beli. Beberapa faktor seperti kualitas dan keberadaannya merupakan perhatian yang lebih baik. Dalam sistem akuntansi biaya harus menyesuaikan dengan aktivitas operasi yang pokok dalam JIT, fokusnya pada komitmen jangka panjang yang mengurangi total kos operasi.

5. JIT mengurangi frekuensi atau detil pelaporan pengiriman pembelian dalam sistem akuntansi internal.

Organisasi mengurangi biaya atau kos pengolahan informasi dalam sistem akuntansi internal, mengikuti beberapa langkah:

· Pengumpulan (pengelompokan) atau peringkasan, pengiriman pembelian individu untuk menghindari transaksi tersendiri untuk masing-masing pengiriman.

· Menggunakan sitem transfer elektronik. Dimana order pembelian awal secara otomatis memulai transfer data elektronik pada tanggal pengiriman dan dana elektronik mengirim pada tanggal pembayaran.

· Penyusunan ulang departemen akun yang dapat dibayarkan sehingga dapat beroperasi sebagai jalur pertemuan.

I.4 JIT Production

Karakteristik aktivitas pengoperasian

Elemen kunci JIT Production meliputi:

1) Jalur produksi berbasiskan permintaan, jadi aktivitas masing-masing workstation diotorisasi oleh permintaan workstation hilir.

2) Perhatian atau tekanan ditempatkan pada pengurangan waktu produksi ( waktu dari tahap awal produksi sampai produk selesai dalam jalur produksi).

3) Jalur produksi dihentikan jika proses dalam bekerja kurang baik atau sempurna.

4) Perhatian pada penyederhanaan aktivitas terhadap jalur produksi jadi area dimana aktivitas tidak bernilai tambah terjadi dapat terlihat dan dapat dieliminasi.

Meningkatkan direct traceability beberapa kos

Dapat melalui 2 cara:

1) Mengubah pokok yang mendasari aktivitas produksi

Kos dari banyak aktivitas diklasifikasikan sebagai kos tidak langsung telah ditransfer ke kategori kos langsung dalam JIT.

2) Mengubah kemampuan trace cost ke jalur atau area produksi spesifik

Bahkan jika aktivitas produksi yang mendasar tidak diubah atau data dapat ditangkap atau diperoleh lebih ekonomis.

Mengeliminasi (atau mengurangi) kelompok kas tidak langsung

Perubahan ini berhubungan untuk meningkatkan frace ability kas & datpat dilakukan dalam beberapa cara:

§ Mengubah aktivitas produkasi yg mendasar

§ Mengeliminasi aktivias tidak bernilai tambah.

Mengurangi tekanan/ perhatian pada tenaga kerja individual dan varian pengeluaran

Perusahaan yang mengimplementasikan metode produksi JIT melporkan mengurangi tekanan pada penggunaan tenaga kerja dan varian overhead. Dalam JIT, tekanan ada pada kinerja total, tidak pada masing2 bagian kinerja. Sebagai contoh, motorola telah mengeliminasisemua pekerja & standar overhead. Keuntungan dilaporkan menyangkut pengurangan aspek disfungsional hal yang berhubungan dengan pemfokuskan pada produksi individual & mengurangi pengeluaran administratif.

Mengurangi tingkat informasi mendetail yang dicatat pada work tickets.

Aspek kunci dari filosofi JIT adalah penyederhanaan semua aktivitas.

Beberapa / cara dalam menyederhanakan work ticket dalam produksi JIT yaitu:

I. Proses produksi diubah sehingga lebih sedikit bagian material per produk penyeleseian

II. Hanya material langsung dicatat pada work tickts, semua biaya lain dikeluarkan pada waktunya

III. Sistem pembiayaan kerja diubah ke prosess costing atau sistem costing product backfash

Job costing mengandung tingkat informasi paling detail dengan informasi unit teprodsuk individul, pekerjaan individual berfokus pada produk costing. Process costing dipandang sebagai spektrum akhir; proses individu untuk memberikan periode waktu adalah fokusnya. Operating costing merupakan gabungan sistem costing dimana merupakan kombinasi elemen job & process costing.

Kebanyakan perusahaan membuat perubahan dalam sistem costing dasar dengan menggunakan produksi JIT mengadopsi 1 dr 3 jalan yaitu:

· Penggantian dari sistem job costing ke process sistem

· Penggantian dari lebih detail ke sedikit detail sistem proses costing.

Mark industries membuat perubahan dalam 3 jalur product.

Jumlah pusat biaya

Jalur produk Per- JIT JIT

Chaike n saws 18 4

Sprockets 5 3

Burs 4 1

  • Penggantian dari sistem job atau process costing ke sistem back flash costing

IV. Tingkat kedetailan informasi dicatat mengenai biaya tanaga kerja dikurangi

Organisasi / perusahaan mengadopsi metode poduksi JIT telah mengadaptasi pengurangan material tenaga kerja dengan:

· Tetap memakai tenaga kerja langsung sebagai kategori terpisah tetapi mengurangi klasifikasi tnaga kerja individu. Industri mesin manufaktur mengurangi klasifikasi tenaga kerja dari 16 ke 5 ke atas periode waktu 3 tahun dalam mengadopsi metode produksi JIT

· Meninggalkan tenaga kerja sebagai kategori kas langsung terpisah.

I.5 Cost management in JIT environment

Cost manajeman dalam JIT memilki beberapa aktifitas, kebanyakan tidak mengunakan JIT .

1. Perencanaan kas

Ini dikerjakan sebelum memulai produksi & dalam beberapa busur sebelum jalur produksi di bangun.

2. Pengurangan kas

Ini dikerjakan pada tahap praproduksi & produksi.

3. Pengendalian kas

Ini dikerjakan ketika produksi dimulai sumber informasi untuk aktivitas pengendalian kas mencakup:

§ Observasi personal sengan jalur produksi pekerja.

§ Pengukuran kinerja keuangan

§ Pengukuran non kinerja keuangan

Trend umum pada bengkel produksi call level & pada plant level telah diobservasi dalam JIT merupakan pengurangan aturan untuk pengukuran keuangan & meningkatkan aturan untuk observasi personal & pengukuran non keuangan dalam aktivitas pengendalian kas.

Alasan trend ini adalah:

§ Pekerja produksi memainkan peranan penting dalam aktivitas pengendalian kas.

§ Pengurangan dramatis dalam waktu yang berperan penting dalam penggunaan JIT ditempatkan premium pada timeliness data ketika pengendalian kas

§ Peningkatan pengendaliaan diberikan pada pinpointing dan pngendalian driver kas awal.

§ Sistem akuntansi internal dalam JIT mengandung sedikit pengendalian kas data mengenai kas produk aktual pada bagian terkecil produksi individu.

Pengukuran inventory turnover

Inventory turnover merupakan pengukuran kinerja kunci dalam JIT.

Pengurangan pengukuran target kos

Perbandingan kos produk aktual dengan kos produk target memainkan peranan penting dalam organisasi dimana menegaskan aktivitas pengurangan kos.

I.6 JIT is Simplification

Tidak ada blueprint tersendiri untuk cost accounting dan cost management dalam lingkungan JIT. Ada variasi kuat dalam perubahan untuk kelompok kos digunakan, basis alokasi dipilih, adopsi sistem costing ( pekerjaan, operasi, proses atau backflush) dan tipe dari pengukuran kinerja yang digunakan aktivitas yang menambah nilai dapat lebih ditingkatkan dan tidak dapat dieliminasi.

Metode JIT telah membuktikan adanya perubahan signifikan dalam operasi yang mendasar seperti untuk meyakinkan perubahan corresponding dalam sistem akuntansi operasi mendasar menggunakan metode produksi atau pembelian JIT.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dalam menangani tingginya biaya, menurunnya laba, dan menajamnya persaingan telah mengakibatkan perusahaan mencari cara-cara untuk merampingkan kegiatan usaha mereka dan mengumpulkan lebih banyak data akurat untuk tujuan pengambilan keputusan. Oleh karena itu muncullah ide Just In Time (JIT) yang hanya memproduksi apabila ada permintaan. Akibatnya pemborosan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Tujuan utama JIT adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.

Prinsip dasar JIT adalah meningkatkan kemampuan secara terus-menerus untuk merespon perubahan dengan meminimisasi pemborosan. Ada empat aspek pokok dalam sistim JIT yaitu :

• Menghilangkan semua aktivitas atau sumber-sumber yang tidak memberikan nilai tambah terhadap produk.

• Komitmen terhadap kualitas prima.

• Mendorong perbaikan berkesinambungan untuk meningkatkan efisiensi.

• Memberikan tekanan pada penyederhanaan aktivitas dan peningkatan visibilitas yang memberikan nilai tambah.

Persediaan JIT adalah untuk sistem persediaan yang dirancang guna mendapatkan barang secara tepat waktu. Pada persediaan JIT mensyaratkan bahwa proses atau orang yang membuat unit-unit rusak dapat dikirim untuk menunggu pengerjaan ulang atau menjadi bahan sisa. Sistim JIT menghapus kebutuhan akan persediaan karena tidak ada produksi sampai barang akan dijual. Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mempunyai pesanan terus menerus agar dapat berproduksi

Dalam system JIT menerapkan untuk membeli barang hanya dalam kuantitas yang dibutuhkan saja. Untuk itu perusahaan harus mengikat kontrak panjang kepada pemasok agar bersedia mengirimkan barang yang kita pesan sesering mungkin. Hal ini agar tidak adanya persediaan di gudang.

Produsi JIT adalah suatu sistem dimana tiap komponen dalam jalur produksi menghasilkan secepatnya saat diperlukan dalam langkah selanjutnya dalam jalur produksi. Perusahaan harus memproduksi barang sesuai dengan jumlah pesanan agar tidak adanya persediaan.

Pada system JIT perusahaan harus meningkatkan kualitasnya agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Untuk perusahaan harus memperhatikan kualitas mutunya. Dalam pengiriman barang dalam JIT harus tepat waktu, sesuai dengan jumlah pesanan dan dengan kualitas yang bermutu tinggi. Karena hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan produksi. Jika pelanggan senang maka ia akan sering melakukn pesanan terhadap perusahaan produksi dan sebaliknya jika pelanggan tidak puas maka pelanggan akan memilih ke perusahaan produksi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: